Biofuel dan Kontroversinya

Ada berbagai upaya untuk menghasilkan bahan bakar tak terbatas dan dapat terbarukan. Karena itulah produksi biofuel telah diyakini untuk menjadi jawaban tunggal bagi krisis energi dan pemanasan global. Berbeda dengan sumber energi yang terbarukan lainnya, biomassa - bahan organik, dapat dikonversi langsung menjadi bahan bakar yang dapat langsung dipakai, disebut sebagai "biofuel," untuk membantu memenuhi permintaan bahan bakar transportasi.

Pada era sekarang, industri biofuel telah mendapat sokongan untuk menciptakan lingkungan yang bersih, meningkatkan prospek ekonomi baru di industri pertanian dan akhirnya mengurangi ketergantungan pada minyak mentah sebagai bahan baku bensin. Namun ada banyak kontroversi yang timbul akibat produksi dan penggunaan biofuel.

Isu 1: Apakah biofuel benar-benar ramah lingkungan? Telah dipahami bahwa manfaat utama biofuel adalah pengurangan emisi gas rumah kaca yang berbahaya karena fakta bahwa biofuel terutama berasal dari tanaman yang dapat menyerap karbon dioksida. Dengan demikian, keseimbangan karbondioksida ditopang dan dipelihara di atmosfer. Namun, melihat seluruh proses, dari menyiapkan lahan untuk penanaman, jumlah emisi yang dikurangi oleh pemanfaatan biofuel dibayangi oleh emisi yang jauh lebih besar yang dihasilkan dari pembakaran, penggundulan hutan, dll.

Isu 2: Apakah biofuel tidak mempengaruhi pasokan pangan? Salah satu kritik utama ditujukan pada skala produksi biofuel. Hal ini diyakini dapat mengurangi produksi pertanian tanaman pangan. Masalah ini tidak baik, terutama di negara berkembang.

Perselisihan utama adalah pada produksi biofuel yang akan bersaing dengan pasokan pangan dalam berbagai cara. Hal ini berarti masalah dalam memperebutkan investasi di pedesaan, pertanian, infrastruktur, air, pupuk, SDM, dll yang akan menyebabkan kekurangan pangan dan kenaikan harga.

Isu 3: Apakah biofuel tidak mempengaruhi lahan dan air? adalah fakta bahwa produksi biofuel membutuhkan biomassa hidup seperti tanaman yang pada gilirannya memerlukan sejumlah besar lahan pertanahan dan air. Sangat dikhawatirkan bila hal ini menyebabkan kelangkaan air di suatu daerah. Produksi biofuel hanya akan memperburuk masalah air.

Kita tidak bisa menyangkal fakta bahwa di belahan lain dunia, ketersediaan air lebih parah. Kehadiran biofuel skala besar akan sangat memerlukan sejumlah besar air. Hal ini hanya akan mengakibatkan pengurangan cadangan air.

Isu 4: apakah biofuel akan menyebabkan keruskan habitat liar? Sebagaimana dinyatakan di atas, produksi biofuel memerlukan biomassa hidup yang memerlukan lahan pertanian yang luas. Akibatnya, di beberapa negara, deforestasi dihawatirkan akan meningkat untuk memperluas lahan pertanian. Hal tersebut tidak hanya menghancurkan habitat liar tetapi juga meningkatkan emisi karbon dioksida saat hutan dibakar. Rumah yang ditempati oleh masyarakat adat, petani tradisional dan spesies terancam punah akan terpengaruh karena pembukaan lahan untuk biomassa hidup.

Isu di atas merupakan topik hangat yang perlu diklarifikasi dan dijawab. Kontroversi ini akan menghasilkan sebuah studi yang lebih berkesinambungan dan menyeluruh, serta penelitian yang tidak hanya dilakukan oleh pemerintah tetapi juga oleh masyarakat itu sendiri.

Tapi meskipun terdapat ketidakpastian seperti di atas, sekarang biofuel banyak digunakan di berbagai negara termasuk Amerika Serikat, Brasil dan beberapa negara di Eropa karena merupakan potensi yang sangat baik sebagai bahan bakar alternatif.


IndoEnergi Home