Biofuel dan Perkembangannya

Alternatif pengganti yang paling menjanjikan untuk bahan bakar fosil yang tidak terbarukan (minyak bumi, batubara, dll) diantaranya adalah bahan bakar yang terbuat dari bahan organik, yang disebut "biofuel". Dua jenis biofuel yang banyak digunakan adalah etanol dan biodiesel. Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan tersendiri. Namun, teknologi ini memiliki keterbatasan produksi dengan alasan tidak semua bagian dari tanaman dapat digunakan.

Karena kelemahan ini, telah banyak studi dilakukan untuk mengatasinya. Di sinilah dimulai tahap yang disebut sebagai generasi kedua biofuel. Perkembangan yang disebut generasi kedua ini memanfaatkan tanaman non pangan (biofuel selulosa) seperti biomassa limbah, kayu, dll.

Untuk membedakan secara singkat generasi kedua dari generasi pertama, biofuel generasi pertama merupakan bahan bakar yang berasal dari lemak nabati atau hewani / minyak, pati atau gula melalui produksi yang menggunakan teknologi modern.
Para pendukungnya mengklaim bahwa meningkatkan dukungan secara industri dan politik untuk biofuel generasi kedua adalah solusi yang lebih layak guna mencapai produksi bahan bakar efisien dengan memanfaatkan jauh lebih luas berbagai macam jenis tanaman dan limbah.

Produksi etanol selulosa merupakan hasil eksperimen yang baru ditemukan, yang dapat memecah selulosa dalam serat kayu. Artinya, melalui metode ini dapat diturunkan etanol dari limbah, tanaman, pohon dan rumput. Hal ini secara signifikan lebih baik karena menggunakan pohon-pohon dan rumput membutuhkan sejumlah kecil energi dibandingkan dengan biji-bijian yang harus ditanam kembali setiap tahun. Selain itu, ada teknik untuk penanaman pohon yang secara cepat dapat tumbuh besar hanya dalam 10 tahun. Selain itu, rumput dapat dipanen dua kali setiap tahun.

Pada etanol selulosa, bahan bakar ini berasal dari batang dan tangkai tanaman, bukan hanya menggunakan gula dan pati dari biji seperti pada etanol jagung.  Di USA etanol jenis ini semakin luas peminatnya. Beberapa perusahaan maju telah berencana untuk membangun pembangkit menggunakan metode ini.

Jenis biofuel yang baru ini secara bertahap mendapatkan popularitas karena bahan baku seperti serpihan kayu dan rumput yang hemat biaya dan sangat berlimpah. Selama konversi menjadi etanol, bahan bakar fosil kurang diperlukan, oleh karena itu, biofuel jenis ini memiliki dampak yang lebih besar dibandingkan etanol jagung biasa dalam hal pengurangan emisi gas rumah kaca.

Selain itu, mengenai perbandingan antara luas lahan rumput dan jagung, tidak ada keraguan bahwa satu hektar rumput bisa membuat dua kali jumlah etanol yang bisa dihasilkan oleh satu hektar jagung. Hal ini karena dalam etanol selulosa, seluruh bagian tanaman dapat dimanfaatkan bukan hanya biji-bijian seperti pada etanol jagung. Ini merupakan berita bagus bagi daerah-daerah memanfaatkan jagung sebagai bahan pakan, yang bersaing dengan produsen etanol jagung.

Berdasarkan laporan yang dibuat oleh USA National Resources Defense Council (NRDC), pada tahun 2050, meningkanya produktivitas sumber selulosa pada waktunya memungkinkan untuk menghasilkan sebanyak 150 miliar galon etanol yang sebanding dengan lebih dari dua pertiga konsumsi bensin di USA.


IndoEnergi Home