Energi Terbarukan vs Bahan Bakar Fosil

Bahan bakar fosil - minyak, batubara dan gas alam akan habis perlahan-lahan karena penggunaannya yang konstan. Bahan bakar yang tidak terbarukan, mereka tidak bisa dibuat lagi. Setelah mereka habis, berarti habis dan tak ada lagi.

Sedangkan energi terbarukan dapat diproduksi secara berkelanjutan, seperti energi dari angin, matahari dan air dan bahkan dari benda-benda yang biasanya dianggap sebagai sampah - pohon mati, cabang pohon, kertas koran, ranting pohon, serbuk gergaji, kotoran ternak - sebagai sumber daya kolektif yang disebut "biomassa."

Sinar matahari yang jatuh di bumi dalam satu hari berisi lebih dari dua kali energi yang kita konsumsi dalam satu tahun penuh. Hembusan angin bisa diperoleh di seluruh dunia untuk menghasilkan energi listrik. Sumber-sumber energi bersih ini dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan listrik, panas, bahan bakar dan bahan kimia dengan sedikit dampaknya terhadap lingkungan.

Sebaliknya, emisi dari mobil yang menggunakan bahan bakar bensin dan jenis bahan bakar lainnya yang berasal dari minyak bumi dapat mempengaruhi atmosfer. Polusi udara adalah akibatnya, atau apa yang sering disebut sebagai gas rumah kaca.

Penelitian berkelanjutan telah membuat energi terbarukan saat ini lebih terjangkau daripada 25 tahun yang lalu. Biaya energi angin telah menurun dari 40 sen per kilowatt-jam menjadi kurang dari 5 sen. Biaya listrik dari matahari, melalui photovoltaic telah turun dari lebih dari $1/kilowatt-jam pada tahun 1980 menjadi hampir 20sen/kilowatt-jam saat ini. Dan biaya bahan bakar dari etanol  telah turun drastis dari $4 per galon pada awal tahun 1980 menjadi $1,20 pada saat ini.

Tapi ada juga kekurangan untuk pengembangan energi terbarukan. Sebagai contoh, energi panas matahari yang melibatkan proses pengumpulan sinar matahari melalui kolektor (sering berupa cermin besar) membutuhkan lahan yang luas. Hal ini berdampak pada habitat alamiah beserta tumbuhan dan hewan yang hidup di sana. Lingkungan sekitar juga berdampak ketika didirikan bangunan-bangunan, jalur transmisi, dan transformer. Cairan yang paling sering digunakan pada pembangkit listrik tenaga panas matahari sangat beracun dan tumpahan bisa saja terjadi.

Sel surya atau PV menggunakan teknologi yang sama seperti produksi chip silikon untuk komputer. Proses pembuatannya menggunakan bahan kimia beracun. Bahan kimia beracun juga digunakan dalam pembuatan baterai untuk menyimpan listrik tenaga surya sepanjang malam dan pada saat hari berawan. Proses produksi peralatan ini memiliki dampak lingkungan.

Jadi, meskipun pembangkit listrik terbarukan tidak melepaskan polusi udara atau menggunakan bahan bakar  fosil, mereka masih memiliki dampak pada lingkungan.

Pemanfaatan energi angin juga memiliki keterbatasannya, kebanyakan dalam hal penggunaan lahan. Rata-rata dibutuhkan 17 hektar lahan untuk menghasilkan satu megawatt listrik, yang cukup untuk 750 sampai 1.000 rumah. Namun, pertanian dan peternakan dapat menggunakan lahan di bawah turbin angin.
Turbin angin dapat menyebabkan erosi di daerah gurun. Dan juga, sering merusak pemandangan alamiah alam. Kematian burung juga terjadi akibat tabrakan dengan turbin angin dan kabel penghubung. Masalah ini adalah subjek yang terus menjadi bahan penelitian.

Memproduksi listrik panas bumi dari kerak bumi cenderung dilokalisasi. Hal ini berarti fasilitas harus dibangun di tempat yang terdapat energi panas bumi yang berlimpah. Dalam kegiatan produksi panas bumi, uap yang berasal dari tanah bisa menyebabkan timbulnya korosi dan kerusakan pada pipa. Pembangkit listrik panas bumi terkadang biayanya sedikit lebih tinggi dari pembangkit listrik berbahan bakar gas karena harus mengeluarkan biaya untuk pengeboran.

Terdapat masalah lingkungan yang terkait dengan bendungan untuk menghasilkan listrik tenaga air. Masyarakat tergusur, lahan pertanian dan hutan hilang di daerah yang dibanjiri karena dibendung. Di hilir, bendungan mengubah karakteristik kimia, fisik dan biologis sungai dan tanah.

Tidak seperti bahan bakar fosil, yang kotor di atmosfer, energi terbarukan memiliki sedikit dampak pada lingkungan. Produksi energi terbarukan memang memiliki beberapa kelemahan, terutama terkait pada penggunaan lahan yang luas yang mempengaruhi habitat hewan dan merusak pemandangan alamiah lingkungan.

Dan juga, pengembangan energi terbarukan akan menghasilkan pekerjaan dan mengurangi ketergantungan minyak yang diimpor dari luar negeri.


IndoEnergi Home