Biomassa dan Dampaknya Pada Lingkungan

Limbah Serbuk Gergaji
Menggunakan Biomassa untuk Energi Bisa Mengakibatkan Dampak Positif dan Negatif
Menggunakan biomassa untuk energi dapat memiliki berbagai dampak baik, positif maupun negatif terhadap lingkungan. Sebagai contoh, pembakaran biomassa dapat mengakibatkan lebih banyak atau lebih sedikit polusi udara tergantung pada jenis biomassa dan jenis bahan bakar atau sumber energi yang digantikannya.


Biomassa seperti serbuk gergaji dari pabrik kayu, limbah pabrik kertas, dan sampah pekarangan yang digunakan untuk energi dapat menghindari penggunaan bahan bakar fosil seperti batubara atau gas alam. Pembakaran bahan bakar fosil dan biomassa merilis karbon dioksida (CO2), gas rumah kaca, tetapi ketika tanaman yang merupakan sumber biomassa tumbuh, jumlah CO2 yang hampir setara akan diserap oleh tanaman melalui fotosintesis. Budidaya dan pemanenan biomassa yang berkelanjutan dapat mengakibatkan tidak ada kenaikan bersih emisi CO2. Setiap bentuk dan penggunaan biomassa yang berbeda memberikan dampak lingkungan dengan cara yang berbeda pula.

Pembakaran Kayu
Menggunakan kayu dan arang yang terbuat dari kayu untuk pemanas ruangan dan memasak dapat menggantikan bahan bakar fosil, dan dapat menyebabkan emisi CO2 yang lebih rendah. Kayu dapat dipanen dari hutan atau berasal dari pohon perkotaan/pekarangan yang dipangkas atau ditebang. Namun, asap kayu mengandung polutan berbahaya seperti karbon monoksida dan partikel. Membakar kayu di perapian terbuka sangat tidak efisien dan menghasilkan banyak polusi udara.
Kayu dan arang adalah bahan bakar pemanas dan memasak utama di negara tertinggal, dan kayu dapat dipanen lebih cepat dari pertumbuhan pohon. Hal ini akan mengakibatkan deforestasi. Penanaman pohon yang cepat tumbuh untuk bahan bakar dan menggunakan tungku memasak hemat bahan bakar dapat membantu memperlambat deforestasi dan memperbaiki kualitas lingkungan.

Pembakaran Limbah Padat Kota atau Limbah Kayu
Pembakaran limbah padat perkotaan (atau sampah) dan limbah kayu untuk menghasilkan energi berarti mengurangi jumlah mereka yang harus berakhir di tempat pembuangan sampah. Seperti pembangkit listrik yang menggunakan batubara, menghasilkan energi dari sampah akan mengakibatkan polusi udara ketika bahan bakar dibakar untuk menghasilkan uap atau listrik. Pembakaran sampah melepaskan zat kimia dan substansi lain yang ditemukan dalam limbah. Beberapa bahan kimia dapat berbahaya bagi manusia, lingkungan, atau keduanya, jika mereka tidak terkontrol.

Insinerator dan pembangkit listrik berbahan bakar sampah harus menggunakan teknologi untuk mencegah gas berbahaya dan partikel keluar dari kepulan asap mereka. Harus diberlakukan peraturan lingkungan yang ketat bagi pembangkit listrik berbahan bakar sampah. Dan dibutuhkan pula perangkat anti-polusi, termasuk scrubber, filter kain, dan electrostatic precipitators untuk menangkap polutan udara.

Scrubber membersihkan emisi gas kimia dengan menyemprotkan cairan ke dalam aliran gas untuk menetralisir asam. Filter kain dan electrostatic precipitators menghilangkan materi partikulat dari gas hasil pembakaran.

Sebuah tungku limbah-untuk-energi yang bersuhu tinggi (1.800 sampai 2.000 ° F) secara alami dapat mengurai bahan kimia yang rumit menjadi lebih sederhana, senyawa yang kurang berbahaya.

Energi dari Gas TPA atau Biogas
Biogas adalah gas yang utamanya terdiri dari metana dan karbon dioksida dan merupakan hasil dari proses biologis di lokasi pengolahan limbah, tempat pembuangan limbah, dan sistem manajemen kotoran ternak. Metana adalah salah satu gas rumah kaca yang berhubungan dengan perubahan iklim global. Banyak fasilitas yang bisa dipakai untuk menangkap dan membakar biogas untuk menghasilkan panas atau pembangkit listrik.
Pembakaran metana sebenarnya menguntungkan karena metana merupakan gas rumah kaca yang lebih kuat dari CO2. Listrik yang dihasilkan dari biogas dianggap sebagi "energi hijau" dan dapat menggantikan listrik yang dihasilkan oleh pembakaran bahan bakar fosil, yang akhirnya akan mengakibatkan penurunan bersih pada emisi CO2.

Biofuel Cair: Ethanol dan Biodiesel
Etanol dan biodiesel merupakan bahan bakar yang digunakan dalam mesin mobil dan diesel yang awal mula diciptakan, tetapi karena biaya bensin dan solar yang terbuat dari minyak mentah lebih rendah, maka bahan bakar fosil ini menjadi bahan bakar kendaraan yang lebih dominan.

Biofuel dapat dianggap karbon netral karena tanaman yang digunakan untuk membuat biofuel (seperti jagung dan tebu untuk ethanol, serta kacang kedelai dan kelapa sawit untuk biodiesel) menyerap CO2 saat mereka tumbuh dan bisa mengimbangi CO2 yang dihasilkan ketika biofuel dibuat dan dibakar.

Tanaman yang ditanam untuk biofuel menimbulkan kontroversi, seperti tanah, pupuk, dan energi yang digunakan untuk menanam tanaman biofuel sebenarnya dapat digunakan untuk menumbuhkan tanaman pangan. Juga, di beberapa bagian dunia, area vegetasi alam dan hutan yang luas telah ditebang untuk menanam tebu untuk etanol serta kedelai dan minyak kelapa untuk membuat biodiesel. Karena itu upaya untuk mengembangkan sumber biomassa alternatif yang tidak bersaing dengan tanaman pangan perlu didukung. Begitu juga dengan teknologi penggunakan pupuk dan pestisida yang lebih sedikit, dan metode untuk menghasilkan etanol yang memerlukan lebih sedikit energi dibandingkan fermentasi konvensional. Etanol juga dapat dibuat dari limbah kertas, dan biodiesel dapat dibuat dari limbah minyak nabati dan bahkan ganggang.

Etanol dan campuran etanol-bensin pembakarannya lebih bersih dan memiliki oktan yang lebih tinggi daripada bensin murni, tetapi "penguapan emisi" dari tangki bahan bakar lebih tinggi. Emisi ini berkontribusi pada pembentukan ozon dan kabut asap yang berbahaya. Bensin membutuhkan proses tambahan untuk mengurangi penguapan emisi sebelum dicampur dengan etanol. Dibandingkan dengan minyak solar, pembakaran biodiesel menghasilkan oksida yang mengandung lebih sedikit belerang, partikulat, karbon monoksida, hidrokarbon tak terbakar dan lainnya; tetapi oksida nitrogen-nya lebih tinggi.


via eia


IndoEnergi Home