Energi Nuklir dan Dampaknya Pada Lingkungan


PLTN Tidak Menghasilkan Karbon Dioksida
Tidak seperti pembangkit listrik berbahan bakar fosil, reaktor nuklir tidak menghasilkan polusi udara atau karbon dioksida saat beroperasi. Namun, proses untuk pertambangan dan pemurnian bijih uranium, serta pembangunan reaktor uranium memerlukan sejumlah besar energi. Pembangkit listrik tenaga nuklir membutuhkan sejumlah besar logam dan beton, yang juga memerlukan sejumlah besar energi untuk membuatnya. Jika bahan bakar fosil digunakan untuk membuat listrik yang digunakan dalam pembuatan bahan-bahan yang digunakan PLTN, maka emisi dari pembakaran bahan bakar yang digunakan dapat dikaitkan dengan listrik yang dihasilkan oleh PLTN tersebut.

Energi Nuklir Menghasilkan Limbah Radioaktif
Tempat Penyimpanan Bahan-Bakar
Nuklir Bekas Pakai
Masalah lingkungan utama pada tenaga nuklir adalah limbah radioaktif seperti uranium di mill tailings (penggilingan), pada bahan bakar bekas-pakai dari reaktor, dan limbah radioaktif lainnya. Bahan-bahan ini bisa tetap radioaktif dan berbahaya bagi kesehatan manusia selama ribuan tahun. Karenanya, pihak operator tunduk pada peraturan khusus yang mengatur penanganan, transportasi, penyimpanan, dan pembuangan mereka untuk melindungi kesehatan manusia dan lingkungan.

Limbah radioaktif diklasifikasikan sebagai tingkat rendah dan tingkat tinggi. Radioaktif limbah ini dapat berkisar dari tepat di atas tingkat alamiah, seperti dalam uranium mill tailings, dan tingkat yang jauh lebih tinggi, seperti bahan bakar bekas-pakai dari reaktor (limbah) atau bagian-bagian di dalam reaktor nuklir.
Radioaktivitas limbah nuklir menurun seiring waktu melalui proses yang disebut peluruhan radioaktif. Limbah radioaktif dengan waktu paruh yang singkat sering disimpan sementara sebelum dibuang untuk mengurangi dosis potensi radiasi bagi pekerja yang menangani dan mengangkut limbah, serta untuk mengurangi tingkat radiasi di lokasi pembuangan.

Berdasarkan volume, sebagian besar limbah yang terkait dengan industri tenaga nuklir memiliki tingkat radioaktivitas yang relatif rendah. Uranium mill tailings mengandung unsur radioaktif radium, yang meluruh untuk menghasilkan radon, gas radioaktif. Kebanyakan fabrikasi tailing uranium ditempatkan di dekat fasilitas pengolahan atau lokasi dimana mereka berasal, dan ditutup dengan pembatas dari bahan seperti tanah liat untuk mencegah radon lepas ke atmosfer dan kemudian dibuat segel penghalang berupa lapisan tanah, batu, atau materi lainnya untuk mencegah erosi.

Jenis lain dari limbah radioaktif tingkat rendah adalah alat-alat, pakaian pelindung, kain mengelap, dan item sekali pakai lainnya yang bisa terkontaminasi oleh sejumlah kecil debu atau partikel radioaktif di fasilitas pemrosesan bahan bakar nuklir dan pembangkit listrik. Bahan-bahan ini tunduk pada peraturan khusus yang mengatur penanganan, penyimpanan, dan pembuangan mereka, sehingga mereka tidak akan kontak dengan lingkungan luar.

Limbah radioaktif tingkat tinggi terdiri dari "iradiasi" atau bahan bakar reaktor nuklir bekas-pakai (yaitu, bahan bakar yang telah digunakan dalam reaktor untuk menghasilkan listrik). Bahan bakar reaktor yang digunakan adalah dalam bentuk padat yang terdiri dari pelet bahan bakar kecil dalam tabung logam panjang.

Penyimpanan Bahan Bakar Bekas-Pakai dan Dekomisioning PLTN
Fuel assembly bekas-pakai sangat radioaktif dan awalnya harus disimpan dalam kolam yang dirancang khusus dan menyerupai kolam renang yang besar, dimana air mendinginkan bahan bakar dan bertindak sebagai perisai radiasi, atau dalam wadah penyimpanan kering yang dirancang khusus. Sekarang, semakin banyak operator yang menyimpan bahan bakar bekas-pakai yang lebih tua di fasilitas penyimpanan kering menggunakan beton outdoor khusus atau kontainer baja dengan pendingin udara.

Ketika pembangkit listrik tenaga nuklir berhenti operasi, semua fasilitasnya harus dinonaktifkan. Komisi Pengaturan Nuklir memiliki aturan ketat yang mengatur dekomisioning instalasi nuklir.

Reaktor Nuklir dan Pembangkit Listrik Memiliki Fitur Keselamatan dan  Keamanan Kompleks
Reaksi nuklir yang tak terkendali di dalam reaktor nuklir dapat berpotensi menyebabkan kontaminasi radioaktivitas secara luas di udara dan air, ratusan kilometer di sekitar reaktor. Risiko ini dapat dihindari dengan menggunakan pengaman yang banyak dan beragam, serta melibatkan banyak sistem keselamatan pada pembangkit tenaga nuklir, pelatihan dan keterampilan para operator reaktor, pengujian dan kegiatan pemeliharaan, dan dengan persyaratan peraturan dan pengawasan dari Komisi Pengaturan Nuklir.
Area yang luas di sekitar pembangkit listrik tenaga nuklir dibatasi dan dijaga oleh tim keamanan bersenjata. Reaktor juga harus memiliki penahan yang dirancang untuk menahan cuaca ekstrim dan gempa bumi.


via eia


IndoEnergi Home