Gas Alam dan Dampaknya Pada Lingkungan

Gas alam memiliki banyak kelebihan yang membuatnya menjadi sumber energi yang efisien, relatif bersih, dan ekonomis. Namun demikian, tetap terdapat isu lingkungan dan keselamatan produksi dan penggunaannya. Banyak daerah yang sekarang sedang dieksplorasi dan dikembangkan untuk memproduksi gas alam relatif masih asli dan atau merupakan area hutan belantara; dan pembukaan daerah ini memiliki dampak besar terhadap lingkungan sekitar, satwa liar, dan populasi manusia.

Gas Alam adalah Bahan Bakar Fosil yang Pembakarannya Relatif Bersih
Pembakaran gas alam untuk energi menghasilkan emisi lebih sedikit pada hampir semua jenis polutan udara dan karbon dioksida (CO2) per unit panas yang dihasilkan dibandingkan batubara atau produk minyak olahan. Sekitar 117 pound karbon dioksida diproduksi per juta Btu gas alam, dibandingkan dengan lebih dari 200 pound CO2 per juta Btu batubara dan lebih dari 160 pound per juta Btu bahan bakar minyak.

Gas Alam Sebagian Besar Merupakan Metana - Gas Rumah Kaca yang Kuat
Gas alam sebagian besar terdiri dari metana, yang merupakan gas rumah kaca yang sangat kuat. Metana dapat bocor ke atmosfer dari tambang batubara, sumur minyak dan gas, tangki penyimpanan gas alam, pipa, dan lokasi pengolahannya. Kebocoran ini merupakan salah satu sumber emisi gas rumah kaca.
Industri minyak dan gas alam berusaha untuk mencegah kebocoran gas, dan di tempat gas alam diproduksi tetapi tidak dapat diangkut secara ekonomi, gas alam akan "dinyalakan" atau dibakar di lokasi tersebut. Hal ini dianggap lebih aman dan lebih baik daripada melepaskan metana ke atmosfer karena CO2 lebih sedikit bahayanya sebagai gas rumah kaca dibandingkan metana.

Eksplorasi, Pemboran, dan Produksi Gas Alam Memiliki Banyak Dampak Pada Lingkungan
Ketika ahli geologi mengeksplorasi deposit gas alam di darat, mereka mungkin harus mengganggu tanah dan vegetasi dengan kendaraan mereka. Sebuah sumur gas di darat memerlukan pembukaan jalan, pembersihan dan perataan daerah untuk membuat bor pad
Kegiatan pengeboran sumur menghasilkan polusi udara dan dapat mengganggu satwa liar. Dibutuhkan pipa untuk mengangkut gas dari sumur, dan biasanya akan dilakukan pembukaan lahan untuk mengubur pipa. Produksi gas alam juga dapat mengakibatkan kontaminasi pada sejumlah besar volume air. Air ini harus ditangani dengan baik, disimpan, dan di-disinfectan sehingga tidak mencemari tanah dan air.

Gas alam yang kita gunakan sebagai bahan bakar sebagian besar merupakan metana, namun gas yang belum diolah dari sumur mungkin mengandung senyawa lain, termasuk hidrogen sulfida, gas sangat beracun. Gas alam yang padat hidrogen sulfida biasanya akan menyala berkobar. Pembakaran gas alam  menghasilkan CO2, karbon monoksida, sulfur dioksida, nitrogen oksida, dan senyawa lain tergantung pada komposisi kimia dari gas alam dan seberapa baik gas tersebut dapat terbakar. Sumur gas alam dan pipa sering membutuhkan mesin untuk menjalankan peralatan dan kompresor, yang mengakibatkan kebisingan dan polusi udara tambahan .

Kemajuan dalam Teknologi Pengeboran dan Produksi Memiliki Dampak Positif dan Negatif
Teknologi  pengeboran dan pemulihan gas terbaru telah mengurangi sejumlah besar daerah yang terganggu untuk menghasilkan setiap kaki kubik gas alam. Teknik pemboran horizontal memungkinkan untuk menghasilkan gas dari satu sumur dibandingkan banyak sumur di masa lalu, sehingga diperlukan lebih sedikit sumur untuk exploitasi lapangan gas.
Hydraulic fracturing  (biasa disebut "hydrofracking," atau "fracking," atau "fracing") pada formasi batuan shale akan membuka cadangan gas yang besar, yang sebelumnya terlalu mahal untuk dikembangkan. Hydrofracking dilakukan dengan memompa cairan bertekanan tinggi ke dalam sumur untuk membuat rekahan bebatuan dan memungkinkan gas membebaskan diri dari kantong-kantong kecil di bebatuan. Namun, ada beberapa masalah potensial pada lingkungan yang juga terkait dengan produksi gas shale.
  • Hydraulic fracturing  memerlukan sejumlah besar air.
  • Jika salah kelola, cairan hydraulic fracturing - yang mungkin mengandung bahan kimia yang berpotensi bahaya - dapat mencemari karena terjadinya tumpahan, bocor, konstruksi sumur yang rusak, atau jalur eksposur lainnya.
  • Hydraulic fracturing juga menghasilkan sejumlah besar air limbah, yang mungkin mengandung bahan kimia terlarut dan kontaminan lain yang memerlukan perlakuan sebelum dibuang atau digunakan kembali.
  • Menurut Survei Geologi Amerika Serikat, rekah  hydraulic fracturing "menyebabkan gempa bumi kecil, walaupun terlalu kecil untuk menjadi perhatian bagi keselamatan.
Peraturan Keselamatan dan Standar Yang Ketat Diperlukan untuk Gas Alam
Karena kebocoran gas alam dapat menyebabkan ledakan, ada peraturan dan standar industri yang sangat ketat di lokasi pengeboran untuk memastikan transportasi, penyimpanan, distribusi, dan penggunaan gas alam yang aman. Karena gas alam tidak memiliki bau, perusahaan gas alam menambahkan zat berbau kuat yang disebut merkaptan, sehingga akan segera diketahui jika terjadi kebocoran. 


via eia


IndoEnergi Home