Harga Batubara dan Faktor Yang Mempengaruhinya

Harga batubara bervariasi berdasarkan peringkat batubara, metode penambangan, wilayah geografis, dan kualitas batubara.

Batubara diklasifikasikan menjadi empat jenis utama, atau peringkat (lignit, subbitumen, bitumen, dan antrasit), tergantung pada jumlah dan jenis karbon yang dikandung dan pada jumlah energi panas yang dihasilkan. Batubara dengan kandungan panas tinggi umumnya memiliki harga lebih tinggi.

Pada tahun 2010 rata-rata harga jual batubara di tambang yang memproduksi masing-masing empat peringkat utama batubara:
  • Lignit: $ 18,76 per ton
  • Subbitumen: $ 14,11 per ton
  • Bitumen: $ 60,88 per ton
  • Antrasit: $ 59,51 per ton

Harga batubara yang diperoleh dari pertambangan permukaan umumnya lebih rendah dibandingkan harga batubara yang diperoleh dari tambang bawah tanah. Karena lapisan batubara yang tebal dan dekat permukaan biaya produksinya lebih murah, dan karena itu harga batubara ini cenderung lebih rendah dibandingkan lapisan yang lebih tipis dan lebih dalam. Biaya yang lebih tinggi dari tambang batubara bawah tanah mencerminkan kondisi pertambangan yang lebih sulit dan memerlukan ongkos lebih bagi penambang.

Bila batubara dibakar, ia melepaskan kotoran termasuk belerang yang dapat bergabung dengan oksigen membentuk sulfur dioksida (SO2), zat kimia yang dapat membahayakan hutan dan danau jika bereaksi dengan kelembaban di atmosfer untuk menghasilkan hujan asam. Karena peraturan lingkungan membatasi emisi sulfur, maka batubara rendah belerang dapat memiliki harga yang lebih tinggi dibandingkan batubara tinggi belerang.

Biaya Transportasi Bisa Signifikan
Setelah ditambang, batubara harus dipindahkan ke tempat mereka akan dikonsumsi. Biaya transportasi merupakan faktor signifikan terhadap harga batubara. Dalam beberapa kasus, seperti dalam pengiriman batubara jarak jauh, biaya transportasi bisa lebih tinggi dari harga batubara di tambang.

Sebagian besar batubara diangkut dengan kereta api, truk, tongkang, atau kombinasi dari metode ini. Semua metode transportasi menggunakan bahan bakar diesel dan kenaikan harga minyak secara signifikan dapat mempengaruhi biaya transportasi dan, pada akhirnya meningkatkan harga batubara.

Sebagian Besar Batubara Dibeli untuk Pembangkit Listrik
Sejak tahun 1976, batubara telah menjadi bahan bakar fosil yang paling murah yang digunakan untuk menghasilkan listrik bila diukur berdasarkan biaya per Btu (unit kandungan energi). Meskipun biaya untuk menghasilkan listrik dari batubara telah meningkat, biaya ini masih lebih rendah dibandingkan pembangkit listrik berbahan bakar gas alam atau minyak bumi di kebanyakan daerah.

Harga Batubara Bisa Tergantung pada Jenis Transaksi
Mayoritas penjualan batubara untuk pembangkit tenaga listrik adalah melalui kontrak jangka panjang, dibanding pembelian "on spot" guna melengkapi kebutuhan. Pembelian "on spot" adalah pengiriman tunggal atau multiple bahan bakar untuk pembelian dalam waktu satu tahun. Harga "on spot" dapat berfluktuasi berdasarkan kondisi pasar jangka pendek, sementara harga kontrak cenderung lebih stabil.

Batubara Yang Lebih Mahal Digunakan Untuk Membuat Besi dan Baja
Selain menghasilkan listrik, batubara juga digunakan untuk menghasilkan kokas, yang digunakan dalam peleburan bijih besi untuk membuat baja.

Kokas dibuat dengan memanggang beberapa jenis batubara pada oven khusus bersuhu tinggi tanpa kontak dengan udara. Produk yang dihasilkan, kokas, utamanya terdiri atas karbon. Batubara yang digunakan untuk membuat kokas harus rendah belerang dan membutuhkan pembersihan yang lebih menyeluruh dibandingkan batubara yang digunakan dalam pembangkit listrik dll, dan harganya akan lebih tinggi pula.


via eia


IndoEnergi Home