Keunggulan dan Kelemahan Wireless Charger

Wireless charger (juga dikenal sebagai "pengisian induktif") menggunakan medan elektromagnetik untuk mentransfer energi antara dua benda. Hal ini biasanya dilakukan dengan menggunakan sebuah stasiun pengisian. Energi dikirim melalui pad induktif ke perangkat listrik, yang kemudian dapat menggunakan energi itu untuk mengisi baterai atau menjalankan perangkat.

Pengisi induktif biasanya menggunakan kumparan induksi untuk menciptakan medan elektromagnetik alternating di dalam station pengisian, dan kumparan induksi kedua dalam perangkat portabel mengambil daya dari medan elektromagnetik dan mengubahnya kembali menjadi arus listrik untuk mengisi baterai.

Kedua kumparan induksi diletakakn pada jarak rapat untuk membentuk sebuah transformator listrik. Jarak yang lebih besar antara kumparan pengirim dan penerima dapat dicapai apabila sistem pengisian induktif menggunakan resonansi induktif.

Keuntungan
  • Menurunkan resiko sengatan listrik atau korslet saat basah karena tidak ada konduktor yang digunakan pada wireless charger konduktif, misalnya pada sikat gigi dan alat cukur.
  • Perlindungan koneksi - tidak ada korosi karena perangkat tertutup secara keseluruhan, jauh dari air atau oksigen di atmosfer.
  • Lebih aman untuk implan medis - untuk perangkat medis tertanam, memungkinkan pengisian / powering melalui kulit dibandingkan menggunakan kabel yang menembus kulit, yang akan meningkatkan risiko infeksi.
  • Kenyamanan -. Dibandingkan harus menghubungkan kabel listrik, perangkat dapat ditempatkan pada atau dekat dengan piringan charger.
  • Lebih mudah dibandingkan harus mencolokkan ke kabel listrik (penting untuk orang cacat).

Kekurangan
  • Efisiensi rendah, limbah panas - Kelemahan utama wireless charger adalah efisiensi yang lebih rendah. Dan meningkatkan pemanasan resistif dibandingkan dengan kontak langsung. Implementasi dengan menggunakan frekuensi yang lebih rendah atau teknologi drive yang lebih tua akan lebih lambat dan menghasilkan panas dalam kebanyakan elektronik portabel.
  • Lebih mahal - Pengisian induktif juga memerlukan drive elektronik dan kumparan di perangkat elektronik dan charger, meningkatkan kompleksitas dan biaya manufaktur.
  • Pengisian lambat - karena efisiensi yang lebih rendah, perangkat dapat memakan waktu lebih lama untuk pengisian daya.
  • Ketidaknyamanan - Perangkat mobile yang terhubung ke kabel dapat bebas bergerak dan dioperasikan saat pengisian. Dalam implementasi wireless charger (seperti standar Qi), perangkat mobile harus dibiarkan di pad, dan dengan demikian tidak dapat dipindahkan atau mudah dioperasikan saat pengisian. Dalam prakteknya, ini merupakan titik lemah wireless charger karena faktor kenyamanan akan hilang.
  • Ketidaksesuaian - Tidak seperti (misalnya) konektor charger MicroUSB yang distandarisasi, tidak ada standar de facto pada wireless charger, berpotensi membuat konsumen atau produsen menjadi ribet ketika standar lain muncul (Catatan: Qi telah menjadi standar yang diadopsi oleh banyak perusahaan seperti Google dan Nokia.)
Pendekatan baru dapat mengurangi kerugian lepasnya panas melalui penggunaan kumparan yang sangat tipis, frekuensi yang lebih tinggi, dan drive elektronik yang dioptimalkan. Hal ini membuat pengisi dan penerima lebih efisien dan kompak, memfasilitasi integrasi mereka ke dalam perangkat mobile atau baterai dengan perubahan minimal. Teknologi ini menyediakan lama pengisian yang sebanding dengan pendekatan kabel, dan mereka lebih efisien.

Misalnya, sistem charger kendaraan Magne Charge menggunakan induksi frekuensi tinggi untuk memberikan daya tinggi dengan efisiensi 86% (6,6 kW penyampaian daya dari 7.68 kW listrik yang ditarik).



IndoEnergi Home